13 June 2013

Yang Abadi dari Setiap Insan


Nabiullah Muhammad SAW mungkin telah wafat, Soekarno telah wafat, Mussolini, Adolf Hitler, sampai  Saddam Husain pun kini telah wafat. Secara fisik, mereka tak ada lagi, namun mungkin hanya segelintir orang yang tidak bisa berbicara tentang siapa mereka. Mereka abadi dan tetap menyelimuti perjalanan roda dunia. Bukan fisik mereka yang abadi, tetapi karakterlaah yang membat mereka terus di kenang.


Seorang teman pernah bertanya pada saya. Isi pertanyaannya kurang lebih seperti berikut ini ,
“Kenapa kau selalu diam, bahkan pada saat kau berada pada kondisi dimana suara dan pendapatmu sangat menuntut untk dikeluarkan.”
Dan saya jawab .” Itulah saya.”

Bukan berarti bahwa saya terlalu egois untuk tetap menjadi diri sendiri meskipun berada di lingkungan sosial yang begitu kompleks. Tapi, lebih dari itu, saya ingin menjadi sesuatu yang beda dan membuatku spesial dan tidak dimiliki teman-teman lain. Aku ingin tetap di kenang sebagai diriku sendiri, bukan sebagai orang yang tidak jelas. Saya adalah karakter saya. Baik atau buruknya karakter itu, itulah saya. Dan saya akan tetap mencoba melukis karakter baik untuk dikenang.

Dalam sebuah artikel, tertulis seperti di bawah ini,
Klopper pernah memberi wejangan pada Sang Bapak bangsa Indonesia, Soekarno, dan wejangan ini akhirnya diingat seumur hidupnya.
"Ir Soekarno ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi. Ingatlah, bahwa satu-satunya yang abadi adalah karakter dari seseorang. Kenangan terhadap karakter itu akan tetap hidup sekalipun dia mati."

No comments:

Post a Comment