"Keledaipun tak ingin
jatuh ke jurang yang sama."
Setiap orang, setiap lembaga, sampai pada negara, bahkan
agama tidak akan pernah lepas dari kata sakral berlabel “konflik”. Apapun
bentuknya, baik itu konflik internal maupun konflik eksternal pasti akan ada
mengiringi setiap proses pencarian makna hakiki kehidupan. Tidak peduli anda
pelajar, mahasiswa, pegawai, dosen, atau presiden sekalipun maka bersiaplah
mencumbu kata sakral itu.
Bukan berarti kita harus pasrah, tapi kala bisa janganlah terlalu menyalahkan keadaan, karena apapun yang akan kita lakukan pada dasarnya semua berasal dari diri kita sendiri. Hujan ada karena adanya proses penguapan dari air dari bumi menuju angkasa, membentuk awan, awan gelap dan akhirnya turun lagi ke bumi sebagai butiran-butiran indah penyejuk kerontangnya kemarau. Begitupula hidup, kausalitas dan implikasi menjadi sebuah hukum alam yang tak terbantahkan.
Kembali ke konflik...
Konflik hanya akan menjadi kisah kelam yang tak akan sudi kita kenang di masa yang akan datang jika kita tak mampu membelainya dengan kelembutan proporsional kita. Ia hanya akan menjadi duri dalam langkah langkah kita. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita belajar tentang konflik dan apa yang harus kita lakukan jika kita berhadapan dengan konflik itu.
Konflik hanya akan menjadi kisah kelam yang tak akan sudi kita kenang di masa yang akan datang jika kita tak mampu membelainya dengan kelembutan proporsional kita. Ia hanya akan menjadi duri dalam langkah langkah kita. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita belajar tentang konflik dan apa yang harus kita lakukan jika kita berhadapan dengan konflik itu.
Di kampus-kampus ataupun training-training kepemimpinan di manapun itu, manajemen konflik selalu menjadi menu wajib dan mendapatkan porsi yang cukup. Maka, tidak heran jika sampai hari ini, beragam teori muncul menawarkan konsep-konsep yang aduhai. Akan tetapi, disini kita tidak akan membahas satupun dari teori-teori itu. Kenapa?? Berikut ini akan saya paparkan alasan saya.
Teori apapun yang akan kita gunakan tidak akan pernah
berguna jika kita selalu memandang konflik sebagai sebuah masalah ataupun
rintangan yang begitu memberatkan. Seakan-akan kita alergi dengan yang namanya
konflik, padahal kita sudah tahu, bahwa konflik sudah pasti ada.
Bagi saya, konflik itu adalah seni. Siapa yang kemudian bisa
melihat nilai keindahan di dalamnya, maka dialah yang akan menang. Ia yang
tidak menemukan seni di dalamnya hanya akan merasa terbebani bahkan bisa saja
frustasi tanpa menemukan apa-apa kecuali kekalahan. Kita harusnya bisa melihat
lebih dalam sebelum menilai sesuatu. Sebaiknya kita bisa berpikir lebih jernih
kemudian menentukan kuas apa dan warna apa yang akan kita goreskan di atas
kanvas konflik itu. Jelas hanya mereka yang mempelakukan kanvas itu untuk seni
yang akan mampu menemukan indahnya lukisan diatas kanvas konflik itu.
Konflik itu bukanlah penghalang, paling parah ia hanya akan
menjadi penghambat dan tidak akan menghalangi kita mengejar tujuan. Ia hanya
butuh belaian mesra sampai ia membuat kita mengerti bahwa keberadaannya
tidaklah sia-sia.
Konflik hanyalah ibarat jalan terjal yang harus di lewati pendaki sebelum
sampai di puncak gunung Bulusaraung, dan akhirnya jalan terjal itu akan menjadi
warna indah di antara air mata haru menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan dari
puncak.
No comments:
Post a Comment