30 August 2012

Terima Kasih, Karenamu Aku Sampah


Terima kasih Guruku...
Sejak SD kau selalu memanggilku sampah yang tak berguna katamu,
dan hari inipun akhirnya ku benar-benar menjadi sampah masyarakat.

Terima Kasih, Guruku...
Karena aku sampah katamu,
Kini kutemukan jalan hidupku di dalam bingkai-bingkai sampah.
dan akan terus menyengat mereka yang tak bersyukur mampu bernafas hingga hari ini.
Aku akan merusak tatanan kehidupan yang dibangun orang-orang yang bukan sampah katam.
Hari ini, jika semua jadi kotor karenaku,
maka itu salahmu, Guruku...
Bukan salahku.
Kau yang memaksaku jadi sampah.
Sampah ini pun pernah memungut sebuah tulisan di tumpukan sampah,
katanya, kita akan menjadi seperti yang kita pikirkan.
Ternyata benar,
karena berfikir aku ini sampah, makanya kini kujadi sampah.

sejujurnya, tak sekalipun ku berfikir akan jadi sampah,
sampai pada saat waktu mempertemukan kita, Guruku..
dan akhirnya panggilan sampah dari bibirmu itu menjadi kenangan,
yang tak akan  pernah kulupakan.
Hahaha...
hari itu, akhirnya lahirlah sampah yang baru.
Tapi tenanglah, Guruku...
aku juga bangga melihat anak emasmu, teman sekelasku dulu,
yang kini telah kaya raya dengan uang korupsinya.
Aku juga bangga melihatmu Guruku...
kau mampu menyulap sekolah yang katanya untuk sebuah pendidikan,
katanya untuk cerahnya masa depan,
menjadi sebuah pabrik penghasil benih-benih koruptor seperti anak emasmu itu,
dan menghasilkan sampah sepertiku.

Masa depanku akan cerah, guruku..
karena aku sekolah...
Ia akan cerah karena api yang melahap pemukiman kami,
pemukiman yang katanya akan diubah menjadi sebuah mall oleh anak emasmu dulu.
Katanya arus pendek listrik hingga hanguslah pemukiman kami,
Memang apes, baru saja pemukiman kami mendapat hujan “bensin” lokal, semua hangus....

Tapi, apapun itu, paling tidak kobaran api itu membuat hidup sampah sepertiku,
hari ini akhirnya cerah, guruku.

No comments:

Post a Comment